Senin, 11 Mei 2015

PENGARUH KONSUMSI LEMAK TERHADAP TEKANAN DARAH PENDERITA HIPERTENSI RAWAT JALAN DI PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA

ABSTRAK

RITA ISMUNINGSIH J300101021
Program Studi Gizi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Jl. A. Yani, Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura Surakarta.

PENGARUH KONSUMSI LEMAK TERHADAP TEKANAN DARAH PENDERITA HIPERTENSI RAWAT JALAN DI PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA

PENDAHULUAN : Hipertensi adalah tekanan darah mencapai 140/90 mmHg. Salah satu faktor penyebab hipertensi adalah asupan makan. Konsumsi tinggi lemak dapat menyebabkan tekanan darah meningkat.
TUJUAN : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsumsi lemak terhadap tekanan darah penderita hipertensi rawat jalan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta.
METODE : Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif observasional dengan metode pendekatan cross sectional. Kebiasaan konsumsi lemak diukur dengan menggunakan FFQ (Food Frecuency Qustioner) dan tekanan darah diambil dari rekam medis pemeriksaan terakhir di rumah sakit. Uji hubungan menggunakan uji Pearson Correlation.
HASIL : Dari hasil analisa univariat didapatkan tekanan darah responden sebagian besar tidak terkendali sebesar 25 responden (83,3%) dan konsumsi lemak responden sebagian besar baik sebesar 22 orang (73,3%). Dari uji Pearson Correlation menunjukkan hasil analisa konsumsi lemak terhadap tekanan darah penderita hipertensi di RS PKU Muhammadiyah Surakarta dengan nilai p=0,150 (>0,05) yang berarti tidak ada pengaruh konsumsi lemak terhadap tekanan darah penderita hipertensi dengan persentase 77,3%.
KESIMPULAN : Tidak ada pengaruh konsumsi lemak terhadap tekanan darah penderita hipertensi rawat jalan di RS PKU Muhammadiyah Surakarta.

KATA KUNCI : Konsumsi lemak, tekanan darah

KEPUSTAKAAN : 1992-2013

ASUPAN ENERGI, PROTEIN, ZAT BESI, ASAM FOLAT, DAN KADAR HEMOGLOBIN IBU HAMIL TRIMESTER II

ASUPAN ENERGI, PROTEIN, ZAT BESI, ASAM FOLAT, DAN KADAR HEMOGLOBIN IBU HAMIL TRIMESTER II
Rissa Ardhiandini, Endang Sutjiati, I Dewa Nyoman Supariasa
Poltekkes Kemenkes Malang Jl. Besar Ijen No. 77 C Malang


Tujuan penelittian untuk mengetahui hubungan asupan energi, protein, zat besi, asam folat ibu hamil trimester II terhadap kadar hemoglobin. Jenis penelitian observasional dengan desain cross sectiona. Sampel dalam penelitian adalah 25 ibu hamilrawat jalan. Dalam penelitian tidak ditemukan responden yang mengalami status anemia sedang dan berat. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara asupan protein, zat besi dan asam folat terhadap kadar hemoglobin, sedangkan tidak ada hubungan antara asupan energi dengan kadar hemoglobin. Disarankan bagi institusi sebaiknya melakukan kadar hemoglobin terutama pada Trimester II dan dalam pencegahan anemia gizi khususnya, dianjurkan kepada ibu hamil untuk mengonsumsi bahan makanan yang dapat memenuhi konsumsi  protein, zat besi, asam folat serta memperhatikan makanan yang meningkatkan absorpsi zat besi dan asam folat seperti vitamin C dan vitamin B12. 

sumber : Poltekkes Kemenkes Malang

PENGARUH PEMBERIAN PATI BENGKUANG (innulinum) TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH TIKUS PUTIH DIABETES

PENGARUH PEMBERIAN PATI BENGKUANG (innulinum) TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH TIKUS PUTIH DIABETES
(Analisis Data Sekunder)

FAUZI ARASJ, NURHAMIDAH, FADIL OENZIL

Abstract

Penderita Penyakit Diabettes Mellitus (DM) jumlahnya makin hari makin besaryang tersebar  di seluruh dunia,  menurut kelompok usia dengan berbagai dampak yang ditimbulkannya dan dengan gejala terjadinya hiperglikemia yang dapat menimbulkan gangguan metabolik dan menimbulkan kebutaan, gangguan ginjal, sistem saraf dan cardiovasculer. Disisi lain zat Inulinum yang terkandung dalam bengkoang dikenal sebagai polisacharaida yang diduga dapat menurunkan kadar gula darah, oleh sebab itu dilakukan eksperimen pemberian dosis pati bengkoang yang berbeda pada 3 kelompok tikus putih yang telah dibuat hiperglikemia menggunakan aloksan
Sampel pada penelitian ini menggunakan tikus putih yang teah dibuat menjadi hiperglikemia dan mempunyai berat badan yang homogen artinya tidak terdapat perbedaan yang bermakna berat tikus antar kelompok dengan p val > 0,05 sehingga memenuhi kriteria inklusi yang ditetapkan.  Kemudian dilakukan pemberian pati bengkoang selama 3 minggu, kepada kelompok perlakuan, namun tidak pada kelompok kontrol.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari pengukuran kadar gula darah tikus putih dan terlihat bahwa rerata kadar gula darah kelompok kontrol sebelum perlakuan sebesar 185,5 ± 20,33 mg/dl dan sesudah perlakuan naik menjadi 216 ± 12,72. Kadar gula darah tikus putih kelompok pertama sebelum perlakuan sebesar 210,7 ± 38,57 mg/dl dan sesudah perlakuan turun menjadi 197,2 ± 10,11 dan kadar gula darah tikus putih kelompok kedua sebelum perlakuan adalah sebesar 259,2 ± 110,52 mg/dl dan sesudah perlakuan turun menjadi 224,5 ± 45,08 mg/dl.
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa telah terjadi penurunan kadar gula darah tikus putih di 2  kelompok perlakuan namun  tidak terjadi pada kelompok kontrol.

Key wordL: Diabettes, aloxan, tikus putih, gula darah,
sumber : Poltekkes Kemenkes Padang


Minggu, 21 September 2014

JURNAL 7

Pengukuran Volume Pendarahan Otak Pasien Stroke Hemoragik Menggunakan Modalitas Multislice CT Scan di RSUD di Jakarta.
Eka Putra Syarif Hidayat 1), Tatan Saefudin 1), BS Wibowo 1)
ABSTRACT

                Stroke Haemoragik merupakan penyakit yang sering dijumpai di Indonesia. Modalitas pemeriksaan yang terbaik adalah CT Scan Multi Slice (MSCT Scan), dengan alat itu dapat membantu menegakkan diagnosis dan menentukan volume perdarahan Otak. Ketepatan pengukuran pendarahan otak sangat diperlukan untuk menentukan tindakan meduk yang tepat. Volume pendarahan otak dapat diketahui dengan pengurkuran melalui software computer yang terdapat pada pesawat MSCT Scan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana teknik pengukuran volume pendarahan otak. Penelitian ini menggunakan data skunder dari pemeriksaan CT Scan Kepala. Sampel sebanyak 68 pasien dengan kasus stroke hemoragik. Volume pendarahan otak sebagai variabel terikat, dengan cara mengukur dan menggunakan software yang ada ada pesawat MSCT Scan. Variabel independen berupa umur, jenis kelamin, banyaknya slice thickness. Hasil penelitian dapat menunjukkan bahwa Rata-rata volume pendarahan otak pada penelitian ini sebesar 21,76 cc (umur diatas 40 tahun). Kesimpulan penelitian mnunjukkan volume pendarahan otak ada berbagai umur mempunyai nilai rata-rata yang sama, tidak ada hubungan umur dengan volume pendarahan otak pada kasus stroke hemoragik. Volume pendarahan otak pada pasien laki-laki dan perempuan mempunyai nilai rata-rata yang sama, tidak ada perbedaan volume pendarahan otak antara laki-laki dan perempuan. Banyaknya slice mempunyai hubungan yang kuat dengan volume pendarahan otak pada pemeriksaan MSCT Scan Otak, dengan nilai koefisien korelasi r = 0.786 dengan factor determinan d = 0.618 (61.8%). Variabel banyaknya slice  sebagai factor yang dominan terhadap penghitungan volume pendarahan otak kasus stroke hemoragik.


Kata Kunci : stroke hemoragik, banyaknya slice, volume pendarahan otak, MSCT Scan

Jumat, 22 Agustus 2014

JURNAL 6

PEMBERIAN AIR SUSU IBU, STATUS GIZI DAN KEJADIAN INFEKSI PADA BAYI 6 – 8 BULAN
DI DESA SURADADI KECAMATAN SURADADI KABUPATEN TEGAL

Djatiningsih Setyorini , Enik Sulistyowati, Supadi
Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Semarang

ABSTRAK
Latar Belakang          : Gizi Kurang adalah factor dominan penyebab kematian bayi. Pemberian ASI Ekslusif berkontribusi terhadap status gizi dan kesehatan bayi. Beberapa masalah terdapat di Puskesmas Surodadi, seperti prevalensi pemberian ASI ekslusif masih di bawah standar minimal dan tingginya prevalensi gizi buruk, ISPA serta diare.
Tujuan                        : menganalisis hubungan pemberian ASI dan kejadian infeksi dengan status gizi bayi umur 6-8 bulan
Metode                       : Jenis penelitian ini adalah penelitian explanatory dengan pendekatan cross sectional. Subjek adalah semua bayi 6-8 bulan di wilayah kerja Puskesmas Suradadi. Variabel meliputi pemberian ASI ekslusive, status gizi dan infeksi. Uji statistic yang digunakan adalah fisher exac dan uji koefisien kontingensi.
Hasil                : Bayi yang diberi ASI ekslusif 24,6 %, yang berstatus gizi normal 94,7 & , ber status gizi buruk adalah 1,8 %. Ada 84,2 % bayi mengalami infeksi. Tidak ada hubungan antara pemberian ASI ekslusif dengan status gizi (p=1.00), namun ada hubungan antara pemberian ASI ekslusif dan kejadian infeksi (r=0,605, p = 0.00)
Kesimpulan    : Pemberian ASI ekslusif dapat menurunkan kejadian infeksi pada bayi 6-8 bulan
Kata Kunci      : Pemberian ASI ekslusif, status gizi, kejadian infeksi, 6-8 bulan bayi